Showing posts with label psychology. Show all posts
Showing posts with label psychology. Show all posts

13 April 2012

The Nurturer

"The Nurturer" tertarik dalam menjaga ketertiban dan harmoni dalam setiap aspek kehidupan mereka. Mereka yang sabar dan teliti dalam menangani tanggung jawab mereka. Meskipun tenang, mereka adalah orang-berorientasi dan sangat perhatian. Mereka tidak hanya mengingat detail tentang orang lain, tetapi mereka mengamati dan menghormati perasaan orang lain. Teman dan keluarga cenderung menggambarkan mereka sebagai bijaksana dan dapat dipercaya.

"The Nurturer" paling peduli dengan merawat orang dengan menjaga mereka tetap aman dan aman. Mereka adalah pengasuh sederhana yang tidak menuntut imbalan atau terima kasih atas upaya mereka. Mereka pada dasarnya penuh kasih dan dalam kesabaran lebih dalam ketika berurusan dengan orang-orang berkebutuhan khusus. Mungkin bagi orang yang belum mengenal "The Nurturer" salah membaca mereka sebagai orang yang angkuh.

Hanya di kalangan teman dan keluarga mereka merasa tenang dan nyaman berbicara dengan bebas. "The Nurturer" adalah orang-orang yang serius dengan etika kerja yang kuat, tidak mementingkan diri sendiri. Mereka percaya untuk menjadi cermat dan hemat. Mereka bekerja dengan baik dan menikmati merawat orang lain, mereka tidak suka memberi perintah.

Ringkasan: Tenang, ramah, bertanggung jawab, dan teliti. Komitmen dalam memenuhi kewajibannya. Teliti, telaten dan akurat. Setia, perhatian, ingat dengan spesifik tentang orang-orang yang penting bagi mereka, peduli dengan perasaan orang lain. Upaya untuk menciptakan lingkungan yang tertib dan harmonis di tempat kerja dan di rumah.

Kata kunci: Terorganisir, menjaga apa yang telah dicapai, membangun konsensus, orang yang punya keterampilan.

Karir pekerjaan: Berhubungan dengan kesehatan, perawat, dokter, konsultan, pendeta/ustad, dan pelayanan sosial.


----------------------------------------------------------------------------

Tepat bangeeeeeeet hasil dari tes kepribadian MBTI. Gw banget! hahaha :D

Hasil MBTI punya si pacar juga pas banget! Kadang yaa, walaupun saya ini calon psikolog tapi saat membaca hasil interpretasi tes yang benar2 sesuai dengan si individu, saya masih suka takjub dan kagum sama si penemu alat2 psikodiagnostik. Kok yaa bisa tepat?!

Buat teman2 yaa mau tahu lebih dalam kepribadian kalian masing2 dengan tes kepribadian MBTI, silakan masuk ke website Psikologi Zone. Selamat mencoba! :)

With Love,

19 November 2011

Kasus yang Tak Berkasus

Jelas sekali bahwa saya memang sedang stress "kecil". Yaaah, apalagi kalau bukan karena beban perkuliahan yang harus saya jalani yang memang sudah menjadi pilihan saya. Perlu saya tekankan kata "pilihan saya" karena jelas pilihan untuk lanjut kuliah s2 adalah pilihan saya sendiri. Saya tidak menyangka bahwa beban yang akan saya pikul seberat ini. Saya seperti anak itik tidak buruk rupa yang tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana karena tidak ada sang induk.

Boleh kan kalau saya merasa down saat dosen pembimbing saya menyatakan bahwa dua dari tiga kasus saya GAGAL! oh Tuhaaaaan! oh my Goooooood! oh mon Dieeeeu! :"((( Yaaa.. gagal! Dan yang tersisa hanya 1 kasus yang itupun baru diberikan lampu kuning bukan hijau.. :"((( Gagal karena menurut dosen pembimbing saya kasus saya adalah kasus yang tidak berkasus.. (istilah yang saya buat)

Sepanjang perjalanan pulang sehabis bimbingan, saya berpikir terus "how come?!" kok bisa yaaa saya sudah sejauh ini mengerjakan laporan tapi dinyatakan gagal. Dua laporan sekaligus loh?! Kalau anda di posisi saya apakah anda juga akan seperti saya?! Perasaan malu saat bimbingan. Sedih saat keluar gedung kampus. Bingung saat di perjalanan. Bodo' amat saat di rumah.

Sangking bingungnya. Saya jadi sempat mikir, perasaan kenapa saya terus ya yang salah dalam membuat isi laporan, dibilang kurang ini lah kurang itu lah bahkan sampai dinyatakan gagal. Tapi kenapa rekan sekelompok saya yang memang beda pembimbing anteng-anteng saja dengan laporan mereka. Semoga memang tidak ada hal-hal buruk yang terjadi.

Saya tidak pungkiri bahwa saya memang sedih karena keputusan dosen pembimbing saya. Beliau memang menyerahkan kembali kepada saya soal kelanjutan kasus tersebut. Bisa saja saya nekat tetap melanjutkan laporan kasus tapi dosen pembimbing saya tidak menjamin keselamatan saya saat sidang HIMPSI (himpunan psikologi). Yaa perkataan beliau 100% benar! Lebih baik saya mengerjakan laporan sampai merangkak daripada ending cerita saya yang merangkak. Lebih tepatnya berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. #mottobarusaya!!

FINE!! Saya akan memulai semuanya yaa S.E.M.U.A.N.Y.A dengan sangat hati-hati. Saya tidak mau kejadian kasus tak berkasus ini terulang lagi. Tidak mau lagi 8 bulan terbuang sia-sia.. Oh GOD please help me.. :) Semoga tidak ada lagi kasus tak berkasus. Semoga teman-teman sekalian lancar dalam pengambilan data dan penulisan laporan.. Amin!


With Love,

27 June 2011

Sekolah Kami, Sekolah Kita Semua..

Sekolah Kami yaa itu adalah nama dari sebuah sekolah informal bagi mereka para pemulung dan kaum dhuafa. Sekolah Kami berletak di Bekasi Barat lebih tepatnya di jl. Bintara Jaya IV gg. Masjid rt03/09 Kel.Bintara Jaya, Kec.Bekasi Barat.


Saya beserta kedua teman saya berniat datang ke Sekolah Kami untuk survey tempat magang selanjutnya. Sebenarnya tidak terlalu susah menjadi lokasi Sekolah Kami. Setelah memasuki jl. Bintara Raya silakan bertanya orang-orang di sekitar, pasti mereka tahu dan akan memberikan arah. Tapi hati-hati, jalanan menuju Sekolah Kami terbilang sempit alias pas-pasan bagi yang membawa mobil. Lokasinya memang di ujung jalan namun jangan khawatir Sekolah Kami memiliki parkir kendaraan yang cukup besar.

Sampai lah kami di Sekolah Kami. Kami bertiga tidak mengira kalau pintu bambu ini adalah gerbang menuju Sekolah Kami, setelah seorang pria mengantar kami masuk dan WOW!!! bagusnya sekolah ini. Kurang lebih hampir mirip dengan konsep sekolah alam. Banyak pohon-pohon besar hingga suasana begitu rimbun. Langsung saja kami bertiga bilang "Betah!" yaaa di sini. Sedikit menunggu dan akhirnya kami disambut oleh salah satu guru wanita berjilbab (maaf ibu saya lupa nama ibu), sedikit berbincang dengan inti maksud kedatangan kami dan langsung saja kami diantar masuk ke dalam sekolah.

Melangkah masuk ke area belajar, kami bertemu guru wanita berjilbab lainnya (lagi-lagi saya lupa namanya!) memberi arahan kepada kami tentang sekolah ini. Sekolah Kami terbilang sekolah informal dimana tetap mengacu kepada kurikulum diknas. Ketika ujian mereka menggunakan kejar paket A. Tingkatan jenjang sekolahnya pun tetap sama dengan sekolah formal yaitu SD kelas 1 - 6 tetapi tidak dibatasi oleh umur. Jika ada anak berusia 10 tahun tapi belum mampu menulis dan membaca akan tetap masuk di kelas 1 SD.


Para siswa datang tidak perlu menggunakan seragam sekolah, cukup pakaian yangt menutupi tubuh serta sandal tidak perlu sepatu, namun mereka tetap memiliki tata tertib seperti masuk sekolah jam 7 dan pulang jam 12. Tata tertib memang perlu agar para siswa belajar disiplin kata si pimpinan Sekolah Kami.

Sepertinya timing kedatangan kami ke Sekolah Kami memang sangat tepat, dimana ada satu rombongan ibu-ibu yang mengaku dari Bintaro (bintara dan bintaro kakak beradik?!) yang juga sedang berkunjung sehingga pihak Sekolah Kami akan mendemonstrasikan cara membuat kertas ulang. Yaaaa.. ikut nimbrung engga apa-apa kan yaaa tante?! hihihi..

Salah satu siswa Sekolah Kami yang sedang menjelaskan cara membuat kertas daur ulang


Kertas yang telah dipotong kecil-kecil direndam didalam air selama 30 menit

Saya sedang mencoba mencetak bubur kertas yang telah dicampur pewarna alami daun pandan
Proses pelepasan bubur kertas dari cetakan

Kertas daur ulang yang sudang berhasil dibuat. Sekarang tinggal tunggu kering.
Setelah selesai melihat proses pendaur-ulangan kertas, kita lanjut mendatangi sebuah pendopo yang di dalamnya sedang ada kelompok belajar yang ditutori oleh wanita asing yang sepertinya berasal dari Amerika bernama Dominique dan tidak hanya Dominique guru asing di Sekolah Kami ini dan lagi-lagi kami disambut oleh seorang wanita yang ketika saya lihat pertama kali inner beauty nya terlihat jelas yaa.. dialah sang pimpinan Sekolah Kami yaitu Dr. Irina Among Praja. Apakah teman-teman pernah mendengar nama beliau? Yang pasti beliau memiliki hati dan tujuan yang sangat mulia.
Kesimpulan kami setelah berbincang cukup lama dengan Dr. Irina dan Dominique yaitu bahwa mereka semua sangat terbuka dengan kedatangan dan maksud kami ke depan di Sekolah Kami. Bahkan ketika kami membicarakan mengenai prosedur magang, mereka hanya mengibaskan tangan sambil berkata "Engga perlu, datang saja. Kalian perlu apa tinggal bilang sama ibu". WOW!! Belum pernah kami bertiga disambut begitu terbukanya. Semoga hubungan baik ini akan terus terjalin sampai kapan pun.
Sebelum kami pulang, para siswa Sekolah Kami sempat menampilkan pementasan angklung. Angklung seperti extrakulikuler di Sekolah Kami yang dipelajari setiap hari Sabtu. Hasilnya? Tak kalah bagus dengan mereka yang bersekolah di gedung elite. TOP BGT!
Diperjalanan pulang, saya terus memikirkan sekolah itu, mulia sekali para pendidik di sekolah itu. Semoga tidak hanya satu atau dua sekolah-sekolah seperti Sekolah Kami sehingga semakin banyak anak-anak yang memiliki bekal di masa depannya dan kami bertiga tiba-tiba mencetuskan "Ayoo! Kita buat sekolah seperti itu!" Amiiin!! Semoga Allah mengizinkan.. Amiiiin!! :)

10 May 2011

Seminar Indigo


SPEKTRAL Psychological Organizer menyelenggarakan seminar yang bertemakan " Fenomena Indigo, Rekayasa Genetik atau Keturunan kah?!" ini memiliki tujuan yaitu:
1. Memperkenalkan tentang dunia Indigo langsung dari para ahlinya.
2. Memahami lebih jauh seluk beluk dunia indigo tanpa menyudutkan pihak-pihak tertentu.
3. Mengetahui apakah Indigo itu didapat karena adanya rekayasa genetik atau keturunan..

Acara ini akan dihadiri oleh:
1. Tika Bisono, M.Psi, psikolog
2. dr. Elfida Zulkarnain (sebagai nara sumber)
3. dr. Ferdinan (sebagai nara sumber)
4. Soraya Haque (sebagai moderator)

Yang akan diselenggarakan pada:
Hari Jumat. Tanggal 20 Mei 2011. Jam 13.00 - 16.00.
Di Ruang Serba Guna Hotel Mega Proklamasi
jl. Proklamasi No.40-42, Jakarta Pusat 10320

HTM:
Rp.150.000,- u/ umum
Rp. 130.000,- u/ member SPEKTRAL
bayar 6, gratis 1 (kursi terbatas)

CP:
Minggo: 0856.8888.972 / @aMinggo
Uie:0856.113.056/ @uiewargasasmita

info lebih lanjut:
email = spektral_org@ymail.com
fb= Spektral Organizer
twitter = @spektral_org

Kami tunggu pasrtisipasi dari anda semua, sampai ketemu! :)

Dunia Anak, Dunia Bermain..

Kali ini giliran saya magang di sekolah TK Islam Fitria III. Lokasinya bener-bener dekat dari rumah, menyenangkan yaa!!! :) tinggal naik motor, 3 menit sampai deh di sekolah..

Sekolah ini berlandaskan agama Islam, jadi memang diwajibkan para guru mengenakan jilbab termasuk saya yang statusnya magang. Perlengkapan jilbab sudah saya siapkan jauh-jauh sebelumnya. Tx Dewi :*

Mulai magang di sini dari tanggal 18 April sampai dengan 3 Mei. Ternyata lebih engga disangka. Menangani anak TK lebih banyak harus makan sabar! Ampuuuuun!! Memang seperti yang kalian kira, pasti lucu, yaa memang lucu-lucu mereka ini.Pasti senang deh! Iyaa memang menyenangkan banyak warna-warni di sana-sini. Tapiiiiii.. ternyata beban pelajaran anak TK sekarang gila yaaa!! berat cuy!! Salut deh buat anak TK sekarang.. Huft!


Setiap pagi sehabis mereka para anak TK berbaris dan sebelum memulai pelajaran, mereka diwajibkan berdoa kemudian membaca hafalan surat-surat pendek. Hebaaaat mereka rata-rata sudah hafal surat-surat pendek bukan hanya surat An-Nas atau Al-Ikhlas, tapi surat sampai Al-Ma'un (bener kan yaa tulisannya?!) bahkan mereka sudah hafal ayat kursi.. Saya saja hafal ayat kursi pas SMP, itu juga karena mau ujian praktek agama.. *malu :)


Selain beban pelajaran mereka yang cukup berat dibandingkan waktu saya TK (yaiyalah!), waktu belajar di sekolah pun anak TK lebih lama dibanding dengan anak SDN di tempat saya magang sebelumnya. Apa memang berbeda yaa waktu belajar antara di TK swasta dengan di SD negri? Ada yg tahu kenapa?


Kembali ke TK, permasalahan di TK kurang lebih hampir sama dengan di SD. Yaaa.. namanya juga permasalahan pendidikan. Engga jauh dari slow learner, under achiever, diskalkulia, disleksia, motivasi, sosialisasi, kematangan dan sebagainya.


Namun, sepertinya permasalahan di hampir setiap TK yang sering saya dengar adalah kematangan sekolah. Ada orang tua yang merasa bahwa putra-putrinya sudah pintar baca-tulis-hitung (calistung) dan ingin langsung dimasukin ke SD padahal usia anak masih di bawah standar masuk SD. Btw, apakah kalian tahu bahwa standar pemerintah untuk bisa masuk SD kelas 1 adalah usia 7 tahun. Menurut kalian bagaimana kalau kasusnya seperti itu?! Apakah ada dampak positif dan negatif dari kasus usia anak belum siap masuk SD tapi karena sudah bisa calistung langsung saja dimasukkan ke SD?!


Menurut saya pribadi (pandangan subjektif yaa), alangkah baiknya jika si anak tetap mengikuti pelajaran di TK walaupun dia sudah bisa calistung. Mungkin memang secara pendidikan dia sudah sangat siap untuk mengenyam bangku SD tapi secara emosional? secara sosial? bagaimana? Mungkin memang terkadang anak akan bosan jika pelajaran yang dipelajari di sekolah sudah ia kuasai, namun hal ini bisa diakali dengan cara lain. Jika si guru adalah orang yang peka, ia akan tahu di sisi mana si anak masih terlihat kurang atau lemah, maka disitulah si anak akan lebih dibina agar ketika masuk SD si anak sudah lebih siap dibanding sebelumnya.


Ada lagi kasus, kebalikan dari kasus di atas. Kasus dimana si anak sudah akan memasuki usia bangku SD tapi belum bisa sama sekali calistung. Jangankan calistung, untuk berbicara yang jelas saja si anak belum mampu. Bukan masalah yang dijadikan masalah jika si orang tua memahami hal tersebut sehingga menunda waktu masuk SD dan kembali mengulang di TK. Tapi jika orang tua malah bertindak sebaliknya, malah memaksakan pihak sekolah untuk mengeluarkan ijazah kelulusan bagi anaknya untuk dapat langsung masuk SD, bagaimana jadinya penerus bangsa Indonesia?!


Saya berpendapat seperti ini hanya berdasarkan pendapat kasat mata saja, bukan berdasarkan teori-teori para tetua saya seperti Jung, Bandura, atau lainnya. Maka, jangan diambil hati yaa :)

19 April 2011

Pengalaman Pertama Begitu...

Salah satu syarat untuk menjadi psikolog adalah harus terjun kelapangan membantu menyelesaikan permasalahan seseorang. Berhubung saya ambil jurusan psikologi pendidikan jadi yaa tentu lapangan saya adalah sekolah.. :)


Istilahnya kerja praktek atau magang, dan pilihan pertama tempat kerja praktek saya adalah SDN Klender 06 Pagi..


Kerja praktek ini akan berlangsung selama 12 hari atau 2 minggu. Jadi secara tidak langsung saya harus setiap hari datang ke sekolah, hanya hari minggu saya libur. Masuk sekolah jam 06.30 pagi dan pulang mengikuti jam bubar belajar murid yang nantinya akan saya tangani..

Setelah disambut oleh kepala sekolah SDN Klender 06 Pagi di hari pertama tanggal 4 April 2011, maka selanjutnya saya harus memilih satu dari sekian banyak daftar murid bermasalah. Tertarik dengan satu nama dengan permasalahan kesulitan dalam pemahaman dan kesulitan dalam berhitung. Dalam hati berdoa, semoga saya berjodoh dengan Mawar (anggap saja namanya memang Mawar).. :)
Engga terlalu susah untuk pendekatan dengan Mawar. Memang benar kata wali kelas & orang tuanya kalau Mawar mudah dekat dengan orang baru..


Setiap hari saya bertemu dengan Mawar, memberikan banyak latihan matematika mulai pertambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Walau Mawar memiliki kekurangan dalam hal akademis, tapi semua itu saya anggap tantangan bukan sebagai hambatan. Agar Mawar mengerti sedikiiiit saja, saya membuat beberapa istilah, seperti perkalian menggunakan sistem tangga dan pembagian menggunakan sistem lidi dan Mawar paham soal itu. Senangnyaaa!! Goo Mawar!!

Jujur saya banyak mengalami kesulitan dalam menangani Mawar dan ini memang benar-benar di luar pengalaman saya di kampus. Susahnya membuat anak untuk diam dan fokus sepertinya tidak akan saya dapatkan kalau saya hanya praktek di dalam kampus ketika saya S1 dulu..

Sebelum kerja praktek dimulai dan saat mendengar bahwa lama kerja praktek itu 12 hari, rasanya lamaaaaa sekali. Ternyata, setelah dijalani tak terasa sama sekali dan Akhirnya, hari terakhir tanggal 16 April 2011 masa kerja praktek saya di SDN Klender 06 Pagi berakhir. Bingkisan kecil sebagai kenang-kenangan untuk Mawar perlambang perpisahan.

Harapan saya, semoga waktu yang tidak panjang ini memiliki arti yang panjang untuk Mawar dan keluarganya serta untuk diri saya sendiri. Tanpa adanya Mawar maka langkah saya menjadi psikolog tidak akan maju selangkah.

Terima kasih banyak Mawar, terus belajar yaa dan semangat!!! :)