10 July 2011

Tidung Island, Indonesia #2

7 Juli 2011

Hari kedua kami berada di pulau Tidung, kabupaten Kepulauan Seribu Selatan. Hari ini jadwalnya adalah melihat sunrise dari pantai Timur, snorkelling dan makan ikan bakar di malam hari. Saya akan mulai bercerita.

Sekitar jam 2 dini hari, pulau Tidung diguyur hujan yang cukup deras. Jam 5 pagi kami semua udah bagus dan bergegas menuju pantai Timur untuk melihat sunrise. Langit masih gelap, mata masih sepet tapi harus nge-gowes lagi ke pantai Timur dan tentunya bersama guide kami tercinta, Halim. hihihi. Sampai di pantai Timur belum banyak orang yang dateng. Serasa pantai miliki pribadi. :D


Menurut saya, sunrise-nya kurang ada gregetnya karena hujan yang datang dini hari. Akhirnya kami cuman foto-foto sepanjang menghabiskan waktu sebelum pulang dan menyiapkan keperluan untuk snorkelling. Gowes lagi untuk kembali ke penginapan, dan saya menggowes sepelan mungkin karena otot paha saya sakit. Maklum saya bukan penikmat sepeda. *jadimalu*

Di perjalanan pulang, Halim memberikan kami rute yang berbeda melewati jalur Selatan. Hmm, agak scary yaa lokasinya karena melewati Taman Pemakaman Umum (TPU) pulau Tidung. Di sebelah TPU ada bangunan seperti rumah yang ternyata itu adalah makam raja Tidung yang sebelumnya berlokasi di Barat pulau Tidung dan nama Raja Tidung adalah Raja Pandita. Uniknya disebelah makam Raja Tidung ada gedung KUA pulau Tidung. Lokasi yang unik. hihihi

Lanjut gowes dan sampailah di penginapan. Halim menyarankan untuk jangan terlalu siang berangkat snorkellingnya dan jangan lupa membawa roti tawar untuk pakanan ikan selama di laut. Si ibu penginapan juga udah siap dengan nasi box untuk makan siang kami dan para ABK. Saran aja yaa, engga perlu mandi lah kalau mau berangkat snorkelling. Percuma! hihihi. Bawa minum yang banyak yaa karena menurut pengalaman pribadi saya. Terlalu lama mulut terkena asinnya air laut akan membuat mulut terasa pahit.

Jam 9 kita udah siap di dermaga selatan pulau Tidung. Banyak sampah di dermaga ini, menurut Ical dermaga ini istilahnya "pantat"nya pulau Tidung. Banyak kapal nelayan yang merapat di sini. Kalau udah banyak kapal pasti ada pembuangan, baik botol-botol minum sampai minyak. Tapi tidak separah Muara Angke yaa.

Untuk menuju lokasi snorkelling kami menggunakan kapal kayu tapi tidak sebesar kapal dari Muara Angke. Tujuan pertama adalah pulau air. Kami kira perjalanan tidak akan lama tapi ternyataaa jarak antara tidung ke air selama satu jam. huft! Udah pakai ngantuk di atas kapal, anginnya cuuuy cepoy-cepoy bener dah!!



Yaaa, hampir mati gaya lah selama di atas kapal. Sepanjang jalan yang dilihat air. Saya jadi sempat terpikir bahwa semua ini memang atas kuasaNya. Air laut yang sebanyak ini bisa tidak tumpah pasti karena adanya daya tarik gravitasi tapi semua itu juga pasti karena kuasaNya dan di dalam hati saya berdoa semoga kami yang "kecil" ini tetap dalam lindunganNya. Saya juga sempat terpikirkan Tsunami, ombak yang alami selama di atas kapal saja sudah membuat kapal terombang-ambing. Bagaimana dengan Tsunami?? Lagi-lagi saya jadi teringat kapal minyak di Aceh yang terbawa ombak Tsunami sepanjang 15km. Astaghfirulloh!! Kita semua memang "kecil".. Maka sepanjang perjalanan menuju pulau Air, saya habiskan dengan merenung dan berdoa. :)



Finaaaalllyyy!! Kami sampai di pulau air, dan kami sudah di dalam air laut!! Iyaaaa beneran air laut bukan kolam renang. OMG!! Ini pengalaman pertama saya berenang di dalam laut. Jujur! Sedikit ada rasa takut dan awalnya membuat saya lupa dengan cara berenang seperti apa. Huft! hihihi. Pakai alat snorkelling menurut saya ribet banget, itu alat yang seperti pipa yang ujungnya harus dimasukkan ke dalam mulu kita (entah apa namanya) malah membuat saya sering minum air laut. Akhirnya saya lepas aja itu selang. Jaket pelampung belum berani saya lepas tapi melihat teman saya si Ami yang melepas jaket dan dengan asyiknya nyelem ke dalam terus foto-foto dengan karang membuat nyali saya naik.
Cukup lama kami snorkelling di pulau air, jumpalitan di dalam air. Berusaha banget megang ikan tapi engga pernah berhasil. hihihi. Otot-otot badannya saya pun ikut diuji di sini. Beberapa kali sempat otot punggung saya ke tarik karena gaya renang saya yang engga lazim di dalam laut. Tapi memang sulit sekali teman berenang menyelam ke dalam air laut. Mungkin karena kadar garam air laut yang tinggi maka sangat sulit untuk kita menyelam dan menyeimbangkan badan untuk tetap di dalam. Saya harus memberikan 4 jempol saya kepada Halim. Dia hebat sekali menyelamnya (yaiyalaaah!!) dan nafasnya itu loh panjaaaaang sekali. Dia betah di dalam air dan anteng sambil mengambil gambar kami yg seperti cacing kepanasan karena engga bisa diam. hihihi.
Perjalanan kembali dilanjutkan, tujuan selanjutnya adalah pulau Karang Beras. Pulau ini tidak berpenghuni. Pulau Karang Beras terdiri dari Karang Beras Besar dan Kecil, keduanya bersebelahan. Di pulau ini kami tidak snorkelling, hanya berkeliling sekitar pulau dan di sini kami menjarah banyak kerang, keong dan karang yang sudah terdampar di pinggir pantai. Indah banget ya Allah!! Warna air laut yang bergradasi dari hijau muda, sampai biru kelam. Cantiiik!!

Ini namanya buah pelindung (kalau tidak salah yaa..) rasanya aseeeeeeem bener! Di dalamnya ada bijinya, bentuk bijinya seperti biji duren.
Kalau yang ini kata si mas ABK namanya ubur-ubur kembang, cantik yaa!!
Lanjuuuut!! Pulau selanjutnya adalah pulau Payung, tapi sebelum menepi ke pulau Payung kami snorkelling lagi. Kata Halim, trumbu karang di pulau Payung tidak seindang di pulau Air. Tapi bagi saya kenapa lebih indahan yang di pulau Payung yaa.. Intinya sama saja, sama-sama cantik. :)


Selesai snorkelling di pulau Payung! Snorkellingnya engga terlalu lama di sini, dan intinya kurang puas snorkellingnya, masih pengen lagi!! Nagiiih!! x( Naik ke atas kapal dengan sedikit rasa tidak ikhlas karena harus segera menepi ke pulau Payung. Pulau Payung pulau yang berpenuhi jadi kita di sini bisa istirahat, jajan di warung yang ada di dermaga pulau Payung. Setelah beristirahat, Halim ngajak kita jalan-jalan menyusuri pantai pulau Payung dan saya terkesimaa dengan pemandangan laut dari pulau Payung. Cantiiiiiiik sekali!! Dari semua pemandangan yang saya pernah liat, pulau Payung lah yang paling cantik! Cukup lama kami main-main dan foto-foto di sini. Bercanda dengan si Halim. Hah! Rindunya masa-masa itu.

Dan akhirnya berakhir sudah perjalanan menyusuri pulau-pulau di kepulauan Seribu, mari kita pulang ke pulau Tidung. :) Sepanjang perjalanan, angin dan ombak semakin liar, heh! Pasti bakalan masuk angin nih, badan udah mulai terasa sakit semua di beberapa bagian. Tapi semua itu terbayarkan dengan apa yang kami dapatkan di pulau Tidung ini. :D
Bersih-bersih dan istirahat sebentar di penginapan. Jam 7 kita siap-siap lagi untuk makan ikan bakar di pinggir pantai. Kalau kata Halim nama tempatnya lampu delapan, karena di tempat makan ikan bakarnya ada tiang lampu tempak yang jumlah lampunya ada delapan. Capeeeek deh! hihihi. Halim sendiri loh yang menyediakan semua keperluan makan malam kali ini, mulai dari tiker tempat kita akan duduk, piring, minuman, sampai ikan yang akan dibakar. Halim juga yang membakarnya. TOP deh buat Halim. ;)
Mungkin sebenarnya saya sendiri kurang suka dengan ikan yang dibakar ini. Kata Halim nama ikannya ikan anak tongkol, tahu deh bener engga! hihihi. Yg ena bumbu kecap cabenya. Selain itu kita juga mesen es kelapa muda (lagi dan lagi?!) tapi koq yang kali ini rasanya lebih enak yaa dibanding es kelapa muda yang dipinggir pantai timur. Makan ikan bakar sambil lihat pemandangan langit yang penuh bintang. Jarang-jarang lihat bintang bertaburan dimana-mana, mungkin karena masih sedikitnya lampu di pulau Tidung jadi bintang terlihat jelas. :)
Dengan berakhirnya makan ikan bakar di pinggir pantai selatan pulau Tidung, maka berakhir cerita kami di hari kedua di pulau Tidung. Untu cerita selanjutnya saya akan menceritakan bagaimana perjalanan pulang kami.
Ditunggu yaaa.. :)

09 July 2011

Tidung Island, Indonesia #1

Yihhhhaaaaaaaa!!! Akhirnya rencana liburan ke pulau Tidung terlaksana juga. Senang bukan kepalang! Liburan kali ini semua yang urus dari A sampai Z adalah si Ami, teman kuliah magister saya sekaligus teman magang saya. Makasih banyak yaaaa Amirotun!! :* Entah mengapa liburan ke pulau Tidung begitu membekas di hati saya. Maka dari itu saya ingin sekali menceritakan semua pengalaman yang saya dapati selama berada di pulau Tidung.

Pada tanggal 6 - 8 Juli kemarin, saya beserta keempat teman saya (Ami, Anti, Pyo dan Mba Nung) pergi ke pulau Tidung menggunakan jasa travel dari www.arietidung.com Puas sekali rasanya dengan hasil kerja tim Arie Tidung, tidak ada cela buat mereka semua (bukan promosi loh! Ini beneran!). :)
Berhubung kami diminta berkumpul di Muara Angke jam 5.30 pagi, maka saya beserta teman sepakat untuk menginap di Condotel Golden Sky di daerah Pluit. Maklum kami semua mayoritas rumahnya di daerah Bekasi.

6 Juli 2011

Pukul 5 pagi, kami berlima di dalam taksi Blue Bird menuju Muara Angke. Sedikit mengalami kesulitan untuk mencari pom bensin Pertamina yang menjadi tempat kami janjian dengan si Arie Tidung. Ternyata letak pom bensin ada di dalam pasar Angke, jadi kita masuk melewati gerbang tiket, bayar Rp. 2000 untuk mobil. Sesampainya di pom bensin, sudah ramai loh dengan para wisatawan yang mau ke pulau Tidung juga. Banyak yang bawa tas ransel, tapi juga engga kalah banyak yang bawa travel bag malah ada juga yang bawa bantal.. hahahaha

Ini adalah pengalaman pertama saya datang ke Muara Angke. Kaget juga dengan situasi di sana. Bau amis yang sangat menusuk hidung. Banjir kecil alias genangan air di mana-mana sampai-sampai para pedagang menggunakan sepatu bot plastik bahkan tidak sedikit orang yang tidur dengan nyenyak di atas gerobak. *miris*

Mas Arie bilang bahwa kami menggunakan kapal bernama Madina untuk menuju pulau Tidung. Ini kali kedua saya naik kapal. Jangan dibayangkan kapalnya seperti kapal Titanic atau kapal-kapal yang berada di Marina Ancol yaa. Kapal Madina yang saya tumpangi hanya kapal sederhana dari kayu yang memiliki tiga tingkatan. Lantai dasar bisa dibilang bagasinya kapal. Banyak warga pulau Tidung yang membeli keperluan sehari-hari termasuk untuk logistik di Jakarta dan diangkut menggunakan kapal tersebut. Kemudian, lantai dua dan tiga diisi oleh para wisatawan. Saran dari Mas Arie lebih baik pilih lantai paling atas karena tidak pengap.



Kapal dan angkot sepertinya tidak ada bedanya, sama-sama ngetem. Kapal baru akan jalan jika sudah tidak ada space lagi untuk penumpang. Walaupun begitu tetap kapal Madina menyediakan jaket pelampung bagi semua penumpangnya dan silakan mengambil dan memilih sendiri jaket mana yang dikehendaki karena para ABK (anak buah kapal) hanya sibuk berkata "Masih muat!! Geser bu, jangan di pintu!!" -___-" Akhirnya kapal Madina lepas landas jam 07.30, fiuuhh!! Dan terlihatlah begitu "Indah"nya dermaga Muara Angke..



Berhubung selama di laut lepas saya tidur terus, tidak banyak hal yang bisa diceritakan selain, betapa pegel dan sakitnya kaki saya yang sekitar 2,5 jam menekuk terus. Hiks! :( Yaa jam 10 pagi kami sampai di pulau Tidung!! Voilaa.. :D Kami langsung disambut oleh welcome guide (gaya bener yaaa istilahnya?!) yang mengaku bernama Ical. Si ical ini orangnya tinggi, kulitnya sawo matang ciri khas anak pantai. Kami kira si Ical ini yang akan selalu menemani kami selama di pulau Tidung tapi ternyata bukan, Ical hanya penyalur lidah antara guide kami nantinya dengan Mas Arie. Ical juga lah yang akan menyediakan semua fasilitas kami, mulai dari penginapan, makan, sepeda, kapal sampai alat snorkelling.

Nama guide kami adalah Nurhalim alias Halim. Jujur, sampai sekarang ketika saya mengetik posting ini, saya masih terngiang-ngiang suara Halim yang sering memanggil Mba Nung "Mba Canteeek!" dan akhirnya saya kangen juga dengan guide kami itu. Halim is the best deh! :)

Penginapan di pulau Tidung adalah rumah penduduk yang menyewakan kamarnya untuk para wisatawan. Fasilitasnya bagus loh, AC, TV, kamar mandi dalam dan tempat tidur busa. Namun, kata Mas Arie tidak semua penginapan menyediakan TV. Kebetulan penginapan RHS tempat kami menginap menyediakan TV. Pemiliknya pak Aput, baik sekali beliau ini.



Sampai di penginapan, kami disilakan untuk istirahat dan disarankan jika ingin main banana boat baiknya sore hari ini. Maka jadilah saya dan teman-teman terkapar di kamar penginapan. Saya pun ikutan teler karena pengaruh obat mabok yang masih tersisa. hihihi. Sekitar jam 2 siang, kami baru keluar penginapan dan langsung menuju pantai Barat pulau Tidung naik sepeda. Mari kita goweeeees!! Menurut Ical, perjalanan dari penginapan menuju pantai Barat sekitar 2km. Daerah Barat pulau Tidung memang lebih sedikit penduduknya. Hanya terisi lapangan bola, sekolah, 2 tower telepone seluler (indosat & telkomsel) dan sisanya pepohonan ilalang.


Cerita dari si Ical bahwa kenapa pantai Barat lebih sepi pengunjung karena menurutnya pantai Barat tidak seindah pantai Timur. Menurut saya sama indahnya. :) Tapi memang pantai Barat hanya pemandangannya yang indah tapi tidak ada hal menarik lainnya. Semua aktifitas laut berada di pantai Timur pulau Tidung. Jadi yaa di pantai Barat kami hanya numpang foto-foto saja.. :D

Tidak ada setengah jam di pantai Barat, kami lanjut gowes menuju pantai Timur. Capeeeeek cuy!! -___-" ngos-ngosan!! Kurang lebih dari pantai Barat sampai Timur jaraknya 4km. Hegh!! Tapi semua ini saya nikmati dengan alasan kapan lagi bersepeda dipinggir pantai?? :D
Dari kejauhan udah terlihat keramaian diujung pantai. Kami melewati gapura yang terbuat dari bambu yang tertulis "Welcome to Jembatan Cinta". Dalam hati berkata "Oalaaaah, ini toh lokasi jembatan cinta di pulau Tidung, kayak apa sih itu jembatan?!" Sebelum masuk ke lokasi pantai Timur, sepeda-sepeda harus diparkir dulu dengan biaya parkir Rp.2000 per sepeda. Mahal juga yaaa cuy?!




Suasana pantai Timur belum terlalu ramai, mungkin karena masih siang kali yaa jadi pada takut panas. Puas ngeliatain suasana di pantai Timur dan bolak-balik si Halim nyuruh kita semua terjun dari jembatan cinta. Agak ciut juga yaaa ngeliat tingginya jembatan. hiks! Btw, soal sejarah kenapa dinamakan jembatan cinta, menurut Ical, orang Jakarta juga koq yang ngasih nama jembatan cinta. Soalnya jembatan ini yang mengenalkan dan mendekatkan orang-orang yang ingin terjun dari jembatan cinta. Biasanya orang yang mau terjun diberi semangat oleh orang lain disekitar jembatan dan jadi kenal satu sama lain. Akhirnya saya pun terjuuuuuuuuuuuun!!! Haiks!! Sensasinya cuy!! Pas terjun jantung berasa hilaaaaaang!! Tapi pas udah di dalam air nagiiih! Sampai dua kali saya terjun.. :D


Kelar terjun dari jembatan cinta, lanjut banana boat. Untuk bermain banana boat dikenai biaya Rp.35.000/orang yaa. Antusias banget saya!! Maklum ini kali pertama saya main banana boat *tersipumalu* menurut saya, banana boat lebih nyakitin. Maksudnya di badan lebih sakit gitu, badan dibanting ke dalam air. Soft lens saya aja sempat lepas. Cukup tiga kali saja diceburinnya udah bikin punggung encok-encok. Encok bukan karena dibantingnya tapi karena sulitnya naik ke atas banana boat dari dalam air. Walhasil urat-urat pada melintir deh!

Selanjutnya kano. Ini juga pengalaman pertama saya naik kano. Ilmu mendayung saya minus banget padahal dulu jaman smp pas aktif pramuka saya sempet diajarin mendayung tapi kenapa kanonya cuman bisa maju? engga bisa belok kiri atau kanan? Ujung-ujungnya terdampar di tepi pantai. Susah bener dah main kano!! Memang saya nahkoda yang payah.. :')

Cukup lah yaaaa, main-mainnyaaa udah mau magrib juga. Sebelum pulang ke penginapan. Ngebakso dulu enak kali yaaa?! Emang deh dari jaman dulu les renang sampai sekarang tiap udahan renang pasti laper dan pasti makan mie. :p Nunggu bakso dateng, minum kelapa muda dulu. Sebenernya saya bosen dengan kelapa muda karena hampir tiap hari di rumah saya selalu ada kelapa muda. Tapi yaa berhubung ini di pulau Tidung sensasinya lain. :D

Berakhir sudah hari pertama di pulau Tidung, saatnya mandi dan istirohat.. Tidak sabar untuk menceritakan pengalaman saya di hari kedua. Amazing!! ;)

27 June 2011

Sekolah Kami, Sekolah Kita Semua..

Sekolah Kami yaa itu adalah nama dari sebuah sekolah informal bagi mereka para pemulung dan kaum dhuafa. Sekolah Kami berletak di Bekasi Barat lebih tepatnya di jl. Bintara Jaya IV gg. Masjid rt03/09 Kel.Bintara Jaya, Kec.Bekasi Barat.


Saya beserta kedua teman saya berniat datang ke Sekolah Kami untuk survey tempat magang selanjutnya. Sebenarnya tidak terlalu susah menjadi lokasi Sekolah Kami. Setelah memasuki jl. Bintara Raya silakan bertanya orang-orang di sekitar, pasti mereka tahu dan akan memberikan arah. Tapi hati-hati, jalanan menuju Sekolah Kami terbilang sempit alias pas-pasan bagi yang membawa mobil. Lokasinya memang di ujung jalan namun jangan khawatir Sekolah Kami memiliki parkir kendaraan yang cukup besar.

Sampai lah kami di Sekolah Kami. Kami bertiga tidak mengira kalau pintu bambu ini adalah gerbang menuju Sekolah Kami, setelah seorang pria mengantar kami masuk dan WOW!!! bagusnya sekolah ini. Kurang lebih hampir mirip dengan konsep sekolah alam. Banyak pohon-pohon besar hingga suasana begitu rimbun. Langsung saja kami bertiga bilang "Betah!" yaaa di sini. Sedikit menunggu dan akhirnya kami disambut oleh salah satu guru wanita berjilbab (maaf ibu saya lupa nama ibu), sedikit berbincang dengan inti maksud kedatangan kami dan langsung saja kami diantar masuk ke dalam sekolah.

Melangkah masuk ke area belajar, kami bertemu guru wanita berjilbab lainnya (lagi-lagi saya lupa namanya!) memberi arahan kepada kami tentang sekolah ini. Sekolah Kami terbilang sekolah informal dimana tetap mengacu kepada kurikulum diknas. Ketika ujian mereka menggunakan kejar paket A. Tingkatan jenjang sekolahnya pun tetap sama dengan sekolah formal yaitu SD kelas 1 - 6 tetapi tidak dibatasi oleh umur. Jika ada anak berusia 10 tahun tapi belum mampu menulis dan membaca akan tetap masuk di kelas 1 SD.


Para siswa datang tidak perlu menggunakan seragam sekolah, cukup pakaian yangt menutupi tubuh serta sandal tidak perlu sepatu, namun mereka tetap memiliki tata tertib seperti masuk sekolah jam 7 dan pulang jam 12. Tata tertib memang perlu agar para siswa belajar disiplin kata si pimpinan Sekolah Kami.

Sepertinya timing kedatangan kami ke Sekolah Kami memang sangat tepat, dimana ada satu rombongan ibu-ibu yang mengaku dari Bintaro (bintara dan bintaro kakak beradik?!) yang juga sedang berkunjung sehingga pihak Sekolah Kami akan mendemonstrasikan cara membuat kertas ulang. Yaaaa.. ikut nimbrung engga apa-apa kan yaaa tante?! hihihi..

Salah satu siswa Sekolah Kami yang sedang menjelaskan cara membuat kertas daur ulang


Kertas yang telah dipotong kecil-kecil direndam didalam air selama 30 menit

Saya sedang mencoba mencetak bubur kertas yang telah dicampur pewarna alami daun pandan
Proses pelepasan bubur kertas dari cetakan

Kertas daur ulang yang sudang berhasil dibuat. Sekarang tinggal tunggu kering.
Setelah selesai melihat proses pendaur-ulangan kertas, kita lanjut mendatangi sebuah pendopo yang di dalamnya sedang ada kelompok belajar yang ditutori oleh wanita asing yang sepertinya berasal dari Amerika bernama Dominique dan tidak hanya Dominique guru asing di Sekolah Kami ini dan lagi-lagi kami disambut oleh seorang wanita yang ketika saya lihat pertama kali inner beauty nya terlihat jelas yaa.. dialah sang pimpinan Sekolah Kami yaitu Dr. Irina Among Praja. Apakah teman-teman pernah mendengar nama beliau? Yang pasti beliau memiliki hati dan tujuan yang sangat mulia.
Kesimpulan kami setelah berbincang cukup lama dengan Dr. Irina dan Dominique yaitu bahwa mereka semua sangat terbuka dengan kedatangan dan maksud kami ke depan di Sekolah Kami. Bahkan ketika kami membicarakan mengenai prosedur magang, mereka hanya mengibaskan tangan sambil berkata "Engga perlu, datang saja. Kalian perlu apa tinggal bilang sama ibu". WOW!! Belum pernah kami bertiga disambut begitu terbukanya. Semoga hubungan baik ini akan terus terjalin sampai kapan pun.
Sebelum kami pulang, para siswa Sekolah Kami sempat menampilkan pementasan angklung. Angklung seperti extrakulikuler di Sekolah Kami yang dipelajari setiap hari Sabtu. Hasilnya? Tak kalah bagus dengan mereka yang bersekolah di gedung elite. TOP BGT!
Diperjalanan pulang, saya terus memikirkan sekolah itu, mulia sekali para pendidik di sekolah itu. Semoga tidak hanya satu atau dua sekolah-sekolah seperti Sekolah Kami sehingga semakin banyak anak-anak yang memiliki bekal di masa depannya dan kami bertiga tiba-tiba mencetuskan "Ayoo! Kita buat sekolah seperti itu!" Amiiin!! Semoga Allah mengizinkan.. Amiiiin!! :)

21 June 2011

Cinta Lingkungan, Mulai Dari Diri Sendiri..



Ingin sekali rasanya membahas dan berbagi tentang "Go Green!" Saya rasa siapa yang tidak kenal dengan istilah "Go Green!" terkecuali mereka yang sarat informasi yaa. Kembali kepada diri masing-masing mengartikan arti "Go Green!" itu apa dan bagaimana. Saya sendiri memiliki arti tersendiri, bagi saya "Go Green!" adalah segala bentuk rasa dan perbuatan mencintai lingkungan. Sederhana?! Yaa emang! Cinta Lingkungan :)

Saya mungkin tidak seperti ibu saya yang gemar berkebun. Seperti seluruh tanaman di rumah saya masuk dalam hitungan anggota keluarga. Beliau sempatkan merawat seluruh tanaman baik di halaman depan, teras, taman sampai halaman belakang rumah saya. Mungkin jika tidak ada beliau tanaman yang tersisa di rumah saya tinggal tanaman teh-tehan atau pohon sukun di halaman depan. Tapi karena ketelatenan beliau rumah saya jadi penuh tanaman warna-warni. Saya rasa hobby ibu saya itu termasuk dalam rasa dan perbuatan cinta lingkungan dan itu sudah ada sebelum slogan "Go Green!" marak..



Di sini, saya hanya ingin berbagi seperti apa dan apa saja yang saya lakukan untuk bisa lebih mencintai lingkungan karena jika tidak dimulai dari diri sendiri dan jika tidak kita sendiri maka siapa lagi yang bisa mencintai lingkungan kita yang sudah tua ini. Sungguh tidak ada hasrat untuk besar kepala hanya sekedar memenuhi isi blog saya saja.. ;)

Siapa sih yang engga suka membeli minuman di dalam kemasan baik botol ataupun karton? Hobby keluarga saya itu! Mau susu, sirup, jus dan seluruh keluarganya itulah yang sering kami beli. Terus kalau sudah diminum, botol-botol bekasnya dikemanain?? Jaman dahulu sebelum keluarga saya mengenal Pak Purnomo sebuah botol-botol bekas itu masuk ke dalam bak sampak di depan rumah saya. Tapi semenjak 10 tahun mengenal Pak Purnomo, semua jenis botol bekas, kerdus bekas mau bekas apapun itu kami masukkan dan kumpulkan jadi satu di dalam kantong plastik kemudian seminggu sekali Pak Purnomo akan menjemput "mereka" semua. Yaah! Pak Purnomo adalah pahlawan bagi keluarga saya.
Jadi bak sampah di depan rumah saya jarang sekali dikunjungi oleh pemulung. Sekalinya ada pemulung, mereka selalu tidak mendapatkan apapun. Sorry man! :)
Selain itu, setiap kali saya jajan ke Indomaret ataupun Alfamart dan hanya membeli Magnum sebiji, saya pasti akan mengatakan "Engga usah dikantongin, Mas/Mbak!" Sebisa mungkin jika saya hanya berbelanja 4-5 item dan bisa saya masukkan ke dalam tas maka saya akan menolak menggunakan kantong kresek. Tak perlulah yaa saya jelaskan panjang lebar bahayanya limbah plastik bagi lingkungan kita ini, toh teman-teman sekalian pasti sudah pintar dan khatam :)
Btw, saya ingin bertukar cerita tentang pengalaman saya di negara tetangga yang saya kunjungi sebulan yang lalu. Semoga teman-teman tidak memandang sebelah mata yaa dengan cerita saya ini. Dengan sangat tidak terpaksa saya mengacungkan jempol untuk Malaysia.
Ceritanya ketika saya berada di Plaza Gurney Pinang dan sedang berada di kasir Vincci. Tiba-tiba Macik kasir bilang kepada saya yang kurang lebih artinya jika saya ingin menggunakan kantong pastik alias plastic bag silakan membayar sebesar 2 sen. WHAAAAATTT?! Buat kantong plastik alias kantong kresek aja saya harus bayar?! Dan akhirnya saya lebih memilih memeluk kerdus sepatu Vincci dan rela diliatin banyak orang selama berada di dalam plaza. Bukan berarti saya pelit untuk mengeluarkan uang 2 sen, tapi kembali lagi kepada prinsip saya, yaah! Cinta lingkungan!

Selama kurang lebih 4 hari saya berada di pulau Pinang, saya bisa memberikan kesimpulan bahwa tidak semua toko menjual kantong plastik, bahkan Watson Malaysia di dalam Plaza Gurney dengan terang-terangnya tidak memberikan fasilitas kantong plastik. Jadi untuk yang membeli banyak barang yaa silakan membawa kantong sendiri, jika tidak membawa yaaa derita lo deh!! hahaha.. :D Namun sepertinya hal ini belum berlaku untuk toko-toko kecil atau pedagang kaki lima di dekat Hotel Shangrilla Rasa Sayang Resort Pinang. Semua pedagang di sana masih menggunakan kantong kresek hitam yang baunya menyengat itu loh!
Saya rasa, Indonesia seharusnya mengikuti aksi penghematan kantong kresek seperti Malaysia dan tidak perlu sungkan, ataupun bahkan sampai meributkan siapa yang terlebih dahulu penggagas aksi tersebut. Malu aah!!
Saya pernah ketika sedang berbelanja di toko buku Gramedia dan ketika di kasir saya mengeluarkan kantong belanja pribadi saya. Sudah ditebak, orang-orang di sekitar kanan kiri saya semua melihat saya. Risih?! Yaiya!! Secara cuman kantong doank, pada udik yaa?? Sampai dalam hati saya berkata "Emang aneh yaa pak?! Belum pernah liat kantong sekeren kantong saya?!" .
Sepertinya di supermarket-supermarket besar di Indonesia sudah banyak yang menjual tas belanja yang terbuat dari kain. Kenapa itu tidak dimanfaatkan?! Memang harga tidak semurah kantong kresek (yaiyalah kresek gratis!!) tapi kan dapat dipergunakan sampai ratusan kali belanja dan warna/modelnya juga keren-keren koq. Saya dan pacar pun ikut membeli 2 tas belanja untuk diri kami masing-masing. Niat kami, setiap kami belanja kami menggunakan tas tersebut. Semoga niat baik kami ini bisa berjalan lancar dan bersifat permanen :)


Lain cerita, sebisa mungkin dan sesadar mungkin saya berusaha untuk tidak membuang sampah sembarangan baik di jalanan, di mobil, di angkutan umum, di halte, di kampus, di rumah pokoknya di manapun saya berada saya tidak akan membuang sampah sembarangan kecuali jika saya khilaf (namanya juga manusia). Kan tidak berdosa jika bungkus permen yang secuil itu disimpan dulu di dalam kantong celana ataupun di dalam tas. Kan tidak sulit untuk memegang botol kosong bekas air mineral. Kalau tidak mau repot-repot menampung sampah tersebut, silakan untuk tidak makan permen atau tidak minum. Silakan makan permen atau minum ketika di depan anda tersedia tempat sampah. Maksud saya tempat sampah yang berbentuk tong bukan gundukan sampah di pinggir jalan. :(

Tidak sekali atau dua kali tapi berkali-kali saya melihat para pengemudi mobil mewah (catat!! mobil mewah yang harusnya minum pertamax!) membuang sampah ke jalan dari jendela mobilnya yang hanya dibuka sedikit. Malu yaa pak bu keliatan?! Mereka tidak ingin mobil mewah mereka kotor tetapi mereka malah mengotori jalanan. Semoga para pengemudi tersebut bisa segera menyadari kesalahan mereka, kalau tidak juga sadar, semoga rumah mereka kebanjiran akibat ulah mereka sendiri! Amin! Mobil saya saja yang tipe tahun 90-an mempunyai tempat sampah imut berwarna hijau di dalamnya. Rasanya malu jika teman atau seseorang yang mobilnya saya tumpangi melakukan hal bodoh tersebut. Semoga para pengemudi mobil mewah itu bukan salah satu orang yang saya kenal.


Saya menyadari 100% bahwa aksi-aksi "Go Green!" yang saya lakukan masih jauh dari kata WOW! daripada mereka yang diluar sana yang lebih "Go Green!" hingga sampai membuat suatu aksi "Tanam 1000 Pohon" tapi setidaknya jika ada 1000 orang seperti saya bukankah lingkungan akan lebih mencintai kita?! Sepertinya tidak sulit melakukan aksi "Go Green!" mulailah dari hal yang sangat sederhana pada diri kita sendiri. Toh, akan terlihat lebih indah jika dimulai dari diri kita sendiri tanpa menunggu orang-orang di sekitar kita hanya untuk mencintai lingkungan :)


Btw, saya ingin bertanya kepada para peserta aksi "Tanam 1000 Pohon". Kira-kira setelah 1 tahun aksi tersebut berlangsung, berapa pohon yang tetap hidup dengan sehat?! Semoga saja tidak kurang dari setengahnya yaa. Menurut saya, sebaiknya aksi "Tanam 1000 Pohon" tidak berakhir sampai disitu saja, lebih baik jika dilanjutnya dengan aksi "Rawat 1000 Pohon", kemudian "Panen 1000 Pohon" bahkan kalau perlu sampai aksi "Peremajaan 1000 Pohon". Kan sayang saja jika 1000 pohon yang telah ditanam kemudian ditinggal pergi oleh si penanamnya, biaya penanaman pohon tersebut tentunya tidak memakan sedikit biaya. Betul tidak yang saya katakan pak bu?! Teman-teman sekalianlah yang bisa menilai. :)

15 June 2011

Sushi murah, Sushi enak yaaaa.. Rumah Sushi

Jujur saja, saya bukan pecinta Sushi walaupun saya doyan. Tapi jika disuruh memilih menu lain maka saya akan lebih memilih Dimsum :)

Ngomongin soal Sushi, apakah kalian tahu ada tempat makan Sushi baru namanya Rumah Sushi? Pastilah udah banyak yang tahu. Engga mungkin saya yang bukan maniak Sushi menjadi orang pertama yang tahu soal Rumah Sushi.. hihihi..

Untuk pertama kalinya ke Rumah Sushi, saya diajak sahabat saya untuk cicip-cicip Sushi di sana. Maklum dua sahabat saya itu maniak Sushi, lebih tepatnya maniak mencicipi tempat baru..
Untuk mencari lokasi TKP sebenarnya engga susah-susah banget, kalau engga salah satu sahabat gw menyasarkan kita semua. Akhirnya kita mengelilingi taman Suropati sambil dua kali, udah niat kalau sampai tiga kali mari kita pulang saja. :p
Lebih tepatnya Rumah Sushi berlokasi di Jl. Syamsu Rizal no.2 Menteng.

Sampaaaaaaaiiiiii... "Mana wi tempatnya?!" Itu pertanyaan pertama saya saat sahabat saya meminta mobil berhenti dan parkir. Lokasi Rumah Sushi memang di pinggir jalan tapi engga ada papan besar yang menunjukkan Rumah Sushi, hanya ada spanduk di depan pagar yang bertuliskan "Rumah Sushi". Untuk masuk ke dalamnya kita harus berjalan sekitar 50m (maaf kalau salah, saat itu saya engga bawa meteran). Oalaaaah.. ternyata kedainya ada di halaman belakang rumah. Tempat yang sederhana tapi cukup nyaman bagi saya dan sahabat.

Saat saya masuk, tamu belum ada, mungkin karena baru buka. Rumah Sushi baru buka pada jam 3 sore sampai jam 10 malam sedangkan di weekend buka jam 5 sore dan tutup lebih lama jam 12 malam.

Baiklah, saatnya order.. Kami bertiga tapi pesan 5 piring Sushi :D hihihiihi.. Kami pesan: salmon maki, bella luna, 2 piring tomodachi & bull's eye. *kenyaaaang!
Bull's Eye




Tomodachi
Soal rasa menurut saya memang enaaaaak sekaleeeee, lebih enak Rumah Sushi aah dibanding rumah makan Sushi lainnya. Rasanya memang lebih familiar dengan lidah orang Indonesia. Tidak tercium amis. Tidak perlu mayonaise lagi sebagai tambahan. Pokoknya orang awam pasti suka deh. Bahkan pacar saya aja yang engga doyan Sushi pas saya ajak kesini langsung doyan.

Tapi koq lagi2 menurut saya yaaa, antara Tomodachi, Bull's Eye dan Bella Luna engga terlalu terasa yaa perbedaannya. Menurut saya rasanya hampir sama walaupun sama2 enak. hihihi.


Kalau ngomongin soal harga, Rumah Sushi lebih cakeeeep di kantong!! Mottonya saja "Nggak perlu nabung buat makan sushi enak!!" untuk seporsinya Salmon Maki cukup Rp. 13.000, Bella Luna Rp. 26.000, Tomodachi Rp. 22.000 dan Bull's Eye Rp 23.000 Murah meriah!! :D Makan bertiga cukup Rp. 120.000 udah kenyang sampai begaaaaah..

Minumannya standar dan tetap bikin kantong senang. Kalau saya suka dengan ice lemon tea cukup dengan Rp. 4.000. Engga terlalu asem juga.

Pokoknya mah puas makan Sushi di Rumah Sushi. Lain kali pasti saya ke sini lagi. Semoga Rumah Sushi bisa semakin berkembang yaa.. :D

14 May 2011

Serumpun Tapi Tak Sama..

Agak sedikit bingung mau bercerita apa tentang negara yang masih satu rumpun dengan Indonesia ini. Sejujurnya sy pribadi tidak ada rasa "sensitif" dengan Malaysia. Sy tidak mempermasalahkan semua masalah yang sudah ataupun tengah terjadi antara Indonesia dan Malaysia. Kemiripan budaya yang dipermasalahkan selama ini karena yaa memang karena kita ini satu moyang. Wajar lah kalau ada yang sama budayanya. Okeh! Sy bukan mau membahas soal miripnya budaya. Hmm... hmmmm.... apa ya?! Mau bahas?!


Jika kita semua ingin hidup rukun dan damai, bapak sy selalu berkata "Carilah persamaan diantaranya jika mau rukun, jangan mencari perbedaan yang pasti akan memperpecah belah kita semua!" Jelas sy setuju sekali dengan kata-kata bapak sy ini, bagaimana dengan anda?! Maka dari itu, sepertinya saya akan membahas persamaan antara Malaysia dan Indonesia, itupun sesuai dengan kapasitas pengetahuan sy yang pas-pasan selama 6 hari ini :)


Lets start it..


1. Bahasa. Jelas bahasa Malaysia dan Indonesia sama-sama memakai bahasa Melayu yang dibawa dan disadur dari bangsa Portugis jaman dahulu. Namun, di masing-masing negara diadaptasi agar lebih nyaman di kuping dan diucapkan. Jadi tidak perlu khawatir lah buat yang tidak fasih bhs Inggris. Orang Malaysia akan mengerti dengan apa yang kita ucapkan dengan bhs Indonesia :D


2. Sopan Santun. Jika kita menunjukkan sesuatu dengan jari kita, mungkin kalau orang barat sana menggunakan jari telunjuk. Tapi Malaysia dan Indonesia sama-sama menggunakan ibu jari untuk menunjuk. So Polite!


3. Kendaraan. Malaysia dan Indonesia sama-sama menggunakan setir kanan dan berjalan di sebelah kiri. Sama bukan? Seperti berkendara di Indonesia rasanya kalau sy sedang naik taxi di sini. Btw, taxi di Malaysia disebut Teksi dan di Indonesia disebut Taksi.


4. Makanan. Sy di sini tidak terlalu sulit menyesuaikan lidah sy dengan makanan-makanan di sini tidak seperti di Jepang dimana sy lebih sering makanan cepat saji Yoshinoya. Pasti kalian semua sudah kenal betul dengan nasi lemak, yaa kalau di Indonesia mah namanya nasi uduk. Rasanya pun sama, toping pelengkapnya pun hampir kurang lebih sama dengan nasi uduk.


Sepertinya masih banyak lainnya persamaan antara Malaysia dan Indonesia, tapi kenapa yang sy ingat cuman segini ya?! :( Kalaupun begitu akan sy lanjutkan nanti jika sy sudah sampai di Indonesia nanti.. Keep Reading!! ;)