25 December 2010

Wonderful Wedges

Sepatu adalah kebutuhan primer bagi saya. Walaupun kalau dilihat lemari sepatu saya tidak banyak high heels yang saya punya. Tidak seperti artis-artis ibu kita yang bahkan punya dua atau tiga high heels yang sama, paling-paling warnanya saja yang berbeda.

Entahlah! Setiap kali saya datang ke departement store terutama di bagian sepatu, adrenalin saya langsung memuncak melihat sepatu-sepatu itu dipajang. Padahal belum tentu saya suka dan akan membelinya. Hanya untuk mencobanya saja, saya sudah bisa senyum-senyum sendiri dan pasti korban "senyum-senyum sendiri" saya itu adalah pacar saya.

Banyak sekali jenis-jenis sepatu yang pasti saya sendiri engga tahu ada apa saja sih jenis sepatu di dunia ini?? Tapi buat wanita penggemar high heels amatiran seperti saya dan wanita pecinta sepatu lainnya pasti kenal dengan jenis sepatu yang satu ini..

"WONDERFUL WEDGES"

Sangking sukanya dengan wedges, dalam hati saya kasih nama Wonderful Wedges (WW). Buat si pacar sudah engga asing lagi kalau saya memberikan nama untuk barang-barang kesayangan saya. Hmm, sepertinya lain waktu akan saya bahas ah soal barang-barang kesayangan saya itu.

Baiklah, kembali ke Wonderful Wedges!!! *fokus*

(Guess)

Wedges termasuk ke dalam high heels. Jelas karena memang WW memiliki hak mulai 3 cm - 10 cm pun bisa. Keunikan WW terletak pada haknya yang beda dari high heels lainnya, WW memiliki model tumit yang menyatu dengan sol di bagian depan sepatu. Bentuk yang seperti inilah yang menurut dokter, dapat menghindari tegangnya urat-urat kaki yang sering terjadi kalau kita terlalu memakai high heels.

Selain itu, untuk semua jenis bentuk badan sampai semua jenis pakaian wedges dapat dipadukan. Untuk kalian yang berpostur tubuh besar, wedges sangat membantu untuk dapat memberikan efek kaki terlihat lebih ramping. Contoh saja, artis Indy Barends. Sering kali saya melihat dia mengenakan sepatu wedges tiap kali membawakan acara di TV.

Pasangan WW dalam hal busana juga dapat dibilang fleksibel, untuk kesan santai bisa, untuk kesan formal juga bisa. Itulah hebatnya WW!! Untuk kesan santai, bisa dipadukan dengan celana jeans bahkan rok panjang pun okeh punya, namun baiknya untuk kesan santai gunakan WW yang berbahan dasar kanva, mau dengan model open toe atau close toe tidak menjadi masalah. Okeh semualah pokoknya mah!! :)


(close toe - Guess)



(open toe -Versace)
Cantik - cantik sekali yaaa wedges-wedges ini.. Gorgeous!! :) Engga kuat deh kalau mesti mandangin ini sepatu-sepatu yang cantik!
Ayoo kita lanjutkan!! Sedangkan untuk kesan formal, sebaiknya pilih WW yang berbahan satin atau suede. Lebih manis jika ditambah dengan hiasan batu permata imitasi. Pasti cantik sekali!
(christian louboutin.. Oh my God!!)


(Dior)

(Louboutin)

Sebenarnya, masih banyak sekali model wedges yang tentu tidak bisa jabarkan karena keterbatasan ilmu saya soal WW. Setidaknya saya engga kuper-kuper banget sampai engga tahu model sepatu wedges itu bentuknya kayak apa. Pacar saya saja sekarang tahu wedges bentuknya seperti apa. :)

Postingan ini dibuat hanya semata karena saya penggemar high heels tanpa ada maksud apa-apa. Sekarang ini saya sedang mengincar salah satu WW yang tentu bukan salah satu dari picture yang ada di posting ini. Hmm, engga sabar rasanya pakai WW incaran saya.. :)
Untuk yang belum merasakan kenyamanan dan ke'wonderful'an wedges, ayoo silakan kita beramai-ramai memakai wedges!! *kampanye*
Kalaupun ada kesalahan info dalam postingan ini, sekiranya mohon dimaafkan dan mohon diralatkan. Namanya juga penggemar amatiran. Don't know fashion a lot.. :)

15 December 2010

Kyoto!! Kota 1000 Temple..

Hari ketujuh..

Kyoto!! Kebalikan dari Tokyo (tapi tulisan kanjinya berbeda loh!!) Kenapa Kyoto? Si Babe aja yang udah lebih dari 50 kali ke Jepang, tapi belum pernah ke Kyoto. Jadi marilah kita berpetualang ke Kyoto bersama-sama dengan bermodalkan nekat dan bekal makan siang.. :)

Untuk sampai ke Kyoto, kita harus naik Shinkansen. Yihaaa!! Naik kereta tercepat di dunia!! *norak* Maklum, ini pengalaman gw naik Shinkansen. Siapa sih yang engga antusias mencoba sesuatu hal yang baru selama hal baru tersebut hal yang positif?!

Beberapa hari sebelum keberangkatan, gw dan si Babe harus ngurus tiket Shinkansen di pusat JR Line Tickets di stasiun Tokyo. Sebenarnya nih, harga tiket Shinkansen itu mahal banget tapi karena gw punya tiket Japan Rail Pass (dapat dipesan di Indonesia), jadi harga tiket Shinkansen Tokyo - Kyoto lebih murah.
Harga tiket Shinkansen ke Kyoto sebesar 13.500 yen tanpa JR Pass, berarti kalau mau beli tiket PP yaa dikali dua aja menjadi 27.000 yen senilai Rp. 2,7 juta!! (beli batagor dapet berapa ya?!)Tapi lagi-lagi karena JR Pass inilah si Babe bisa berhemat, harga JR Pass sebesar 28.300 yen untuk 7 hari, dan dapat dipakai untuk JR line, Shinkansen, dan bus sepuaaaaaasnyaaaa!! Jadi kalau dihitung-hitung beli tiket Shinkansen lebih murah dengan JR Pass kan?!

Jarak antara Tokyo - Kyoto seperti jarak antara Jakarta - Semarang kurang lebih, tapi hanya memakan waktu 2 jam 40 menit. WOW!! Jelaslah kenapa tiket Shinkansen begitu mahal ya. Melihat tampilan kereta Shinkansen dari luar aja udah bikin takjub, gimana melihat tampilan Shinkansen dari dalam. Jujur aja nih, pas masuk ke dalam Shinkansen, dalam hati gw berucap "Gila! Kayak pesawat gini dalemnya!" *maaf udik* Tapi memang keren, teman! Kagum & takjub bener mah sama alat transportasi yang satu ini. Kapan Indonesia punya alat transportasi seperti ini?? Kapan-kapan yaa, yang sabar aja!! hehe..


Akhirnya, fixlah, kita berangkat naik Shinkansen jenis Hikari 461 jurusan Tokyo - Kyoto, jam 07.03am dan sampai Kyoto 09.40.. Hebat!!



WELCOME TO KYOTO!!

Stasiun Kyoto itu besaaaaar banget, udah kayak mall. Gw dan Si Babe aja sempet bingung mau keluar lewat pintu mana secara gw dan si Babe sama-sama pertama kali ke Kyoto. Tapi engga usah pusing-pusing lah apalagi sampai takut ilang atau nyasar. Langsung aja datengin Tourism Information. Rata-rata di stasiun besar pasti ada tourism informationnya, di Tokyo juga koq. Kalau di Jakarta ada engga ya?!


Tourism informationnya lengkap bener, engga usah panik kalau engga bisa bahasa Jepang. Mereka melayani dengan bahasa Inggris koq. Pelayanan lainnya, mereka juga memberikan banyak brosur tempat wisata di Kyoto dan juga ngasih peta rute bis (Bus Navi) dan subway Kyoto. Lengkap deh pokoknya!! Jangan khawatir intinya mah!! Apa yang kita mau, asal usaha pasti ada.. *spik*
Setelah tanya sana- sini, si Babe putuskan lebih baik naik bis aja, karena bisa sekalian liat-liat kota Kyoto. Kalau diamatin ya, kota Kyoto seperti kota Jogjakarta, penuh dengan budaya. Seringnya gw lihat perempuan-perempuan Jepang pakai kimono di sini.
Asal naik bis aja, engga tahu ini bis mau ke arah mana yang penting jalan-jalan. Ternyata setelah dipelajari secara seksama, bus Navi ini ada nomernya (seperti di Indonesia yaa). Bis yang gw naikin ini nomer 100 jurusan Ginkakuji-Michi. Tengok kiri kanan, eh ngeliat kuil di sebelah kanan yang banyak pengunjungnya. Langsung berasumsi bahwa, itu pasti tempat wisata. Turun deh kita di halte Gion, dan sampailah di kuil Chionin Temple..
WELCOME TO CHIONIN TEMPLE..


Ini kuil ngejreng banget, warna orange. Dari jauh juga udah keliatan kuilnya. Ow ya, perjalanan ke kuil ini sempet macet loh (Jepang jg bisa macet) karena mungkin hari libur dan banyak orang yang bepergian. Ternyata yaa, dari gerbang orange ini, kuilnya masih jauuuuh banget! Mesti jalan ke dalam lagi, karena kalau gw amatin yaa, di kawasan Chionin Temple ini banyak juga kuil kecil-kecilnya. Sempat ada pertunjukan juga loh di sini, tapi gw engga tahu nama pertunjukannya apa. Yang jelas seru, karena yaa memang baru pertama kali liatnya.. *kembali norak*


Di Chionin Temple ini, gw engga terlalu lama karena tujuan utama itu ke Kyoto Imperial. Kalau ke Kyoto belum ke Imperial mah yaa percuma atuh. Petualangan dimulai lagi!! Kembali baca bis travel map, menurut peta, kalau mau ke Imperial harus naik bis 202. Baiklah nunggu bis 202 di halte Gion. Naik bis Navi ini, jarak jauh dekat harganya tetap sama 220 yen untuk dewasa dan 110 yen untuk anak-anak.

Sampai di halte Karasuma Marutamachi, dan kita harus turun. Menurut petugas dari tourism Information, kalau hari libur termasuk hari Sabtu, Imperial hanya bisa dilihat dari luar aja alias tutup bagian dalamnya. Kecewa?! Yaa sedikit, tapi mau gimana lagi, udah sampai Kyoto lihat pekarangan Imperial juga udah seneng.


Imperial ini kurang lebih yaa 1300 m x 700m, berapa tuh?! Yang jelas luaaass banget! Utara, selatan, timur, barat semuanya ada pintu keluar. Terdiri dari Omiya Palace, Sento Palace dan yang paling megah Kyoto Imperial Palace. Sayang engga bisa foto-foto bagian dalamnya. Di kawasan Imperial ini, engga ada yang di aspal loh jalannya, semuanya batu-batu krikil. Kenapa? Katanya biar kalau ada yang jalan mengeluarkan suara dari langkah-langkah kaki. Hebat yaa?! Kepikiran aja soal beginian.. -.-"



Indahnya pekarangan Kyoto Imperial Palace

Makan siang pakai roti isi cream susu, seperti makan kue sus aja.

Jangan dikira sinar matahari terik begitu jadi udara juga panas, engga cuy!! Tetep dingin banget, malah lebih dingin dari Tokyo. 7 derajat celcius!! -.-" Selesai makan, langsung beres-beres dan melanjutkan petualangan. Tujuan berikutnya adalah Kinkakuji Temple alias kuil emas. Letaknya agak ke utara kota Kyoto dan agak jauh dari Imperial.

Tetap setia dengan bis Navi, naik bis yang nomernya 59 dan turun di halte Kinkakuji-Mae. Nama halte di Jepang susah-susah bener yaa buat dihapal..

WELCOME TO KINKAKUJI TEMPLE



Entah asli entah bukan soal terbuatnya kuil ini dari emas. Sejarahnya pun gw kurang ngerti. Maklum beberapa tour guide yang ada di kuil ini g' ada yang bisa bahasa Indonesia, boro-boro bahasa Indonesia, bahasa Inggris aja engga ada. Jadi ke kuil ini hanya menikmati pemandangan yang keren dan belanja jimat!!! Hahahaha..


beli jimat yang banyaaaak!! :)
Puas belanja jimat, betis juga udah kedut-kedut, mau lanjut petualangan tapi koq waktunya nanggung. Jadinya berakhirlah petualangan Kyoto di Kinkakuji Temple ini. Jalan kaki lagi ke halte Kinkakuji-Michi dan naik bis Navi nomer 205 tujuan Kyoto Stasiun.
Sebenarnya, jadwal kepulangan dari Kyoto - Tokyo itu baru jam 07.29pm, sedangakan sampai di stasiun Kyoto baru jam 04.140pm. Kata si Babe, kita jalan-jalan di stasiun aja. Stasiun = Mall. :)

Lihat aja kan?! Ini stasiun loh! Andai Gambir atau Jatinegara begini yaaa...

Ini restoran pasta. Carbonaranya enaaaak banget!!! Di Indonesia ada engga ya??


dari ngeliat fotonya aja udah kerasa enaknya ini carbonnara. Pasti si Bencong ngiler deh!! :)

Semakin malam, suhu udara di Kyoto makin dingin. Anginnya juga makin kenceng. Jaket kulit, syal, sarung tangan, plus longjon engga mempan teman2!! Mana gw udah standbay dari jam 7 kurang di depan rel Shinkansen. Ampun deh dinginnyaaaa!!!
Perjalanan kembali memakan waktu kurang lebih 2 jam 45 menit, dengan kereta Shinkansen Hikari 530 jurusan Kyoto - Tokyo, jam 07.29pm dan sampai Tokyo 10.11pm.
Berhubung, kaki ini sudah engga bisa diajak kompromi. Akhirnya, si Babe mutusin kita bakalan turun di stasiun Shinagawa aja dan nyambung Tokyo Metro Subway jenis Marunouchi Line sampai stasiun Nishi Shinjuku.

Pukul 10.45, kita sampai juga di hotel Rose Garden Nishi Shinjuku.
Berakhir sudah cerita petualangan di negeri Sakura. Semoga Allah memberikan rezeki kepada si Babe, biar gw bisa jalan-jalan lagi dengan negara atau kota yang berbeda. Amin!!
Sayonara!

06 December 2010

Membeku di Mount Oyama - Isehara

Hari keenam..

Rencana hari ini adalah berkunjung ke rumah saudara yang berada di Atsugi. Agak ribet dari Shinjuku ke Atsugi, tapi mau engga mau yaa harus naik kereta. Biasanya gw naik JR atau Tokyo Metro, kalau ke Atsugi engga bisa naik dua kereta itu, harus naik Odakyu Line..

Dengan harga karcis 480 yen untuk perjalanan sampai Hon-Atsugi, awalnya kita mau naik Odakyu Line dengan jenis kereta Exprees jurusan Odawara yang kurang lebihjam 10.36, tapi ternyata pas liat jadwal keberangkatan kereta, ada yang jam 10.23 tapi kereta Rapid Express, naiklah gw dan si Babe. Duduk manis dan lihat pemandangan.


20 menit berlalu..

Si Babe duduknya udah gelisah, bolak-balik liat peta dan tiba-tiba bilang "Sepertinya kita salah naik kereta, dek!" Heh?! SALAH!! Aih kumaha eta?? Baiklah kita berhenti di stasiun berikutnya saja yaitu stasiun Yamato..

Setelah dianalisa dengan cermat, ternyata kita salah naik jurusan kereta, seharusnya kita naik kereta yang jurusan Odawara tapi malah naik jurusan Fujisawa.. :( Terpaksa balik lagi deh, naik kereta jurusan Shinjuku tapi turun di stasiun Sagami-Ono, baru naik kereta yang benar dengan jurusan Hon-Atsugi.. Fiuuhh!! :")

Bertemulah akhirnya dengan Mas Danang, Mba Mungki dan si kecil Meysha (miemie). Keluarga kecil yang baru aja 3 bulan pindah ke Jepang karena Mas Danang bekerja di NTT (Nippon Telegraph and Telephone)..

Makan siang bareng kita di rumah makan Ootoya Atsugi, kata mas Danang ini rumah makan terkenal, banyak di kota-kota besar di Jepang, makanan enak dan harga cukup engga menguras dompet.. :)

Selesai makan siang niatnya mau langsung pamit dan melanjutkan petualangan. Tapi ternyata Mas Danang ngajakin jalan-jalan juga ke Gunung Oyama di daerah yang namanya Isehara, dua stasiuan dari Atsugi. Naik kereta lagi deh.

Sampai di stasiun Isehara, buat sampai ke gunung Oyama, kita harus naik bis. Model bis di Atsugi ini, model bis-bis di Jakarta itu loh! (iyalah, dibuang Jepang, diambil Indonesia) Bis nya dipasang penghangat, enaknyaaaa engga kedinginan lagi.. Duduk yang manis dan kembali lihat pemandangan! :) Perjalanan naik bis cukup jauh, dari ujung ke ujung, dari awal halte sampai pemberhentian terakhir dengan harga 300 yen (Rp.30.000).

Sempat terheran-heran gw dengan lokasi yang dilewatin bis-nya, gang-gang di perumahan di lewatin juga. hebat! Sampai mesti mundur bis yang gw tumpangin karena ada bis juga dari arah berlawanan. Hebat bener yaa.. Kalau di Indonesia mah pasti angkot yang masuk-masuk perumahan.

Jeng.. Jeng.. Jeng..

Sampailah kita di kaki gunung Oyama!! Baguuuusnya!! Hampir semua pohon di sini udah berwarna merah atau kuning, tandanya musim gugur. Si Babe hobby banget motretin pohon yang udah menguning.. -.-"
Buat sampai ke atas, buat ketemu sama templenya kita harus naik kereta, karena kalau mendaki sepertinya kondisi dan situasi sangat tidak memungkinkan. Untuk sampai ke loket keretanya saja, kita harus jalan menanjak yang cukup jauh, mungkin kurang lebih satu kilo ada kali yaa (jadi inget progresi Situ Gunung..)

Tempat wisata ini buka cuma sampai jam 16.30 aja, sedangkan kita sendiri baru sampai loket kereta jam 16.00, berarti nanti di atas cuman sebentar donk, trus harus buru-buru naik kereta. Kalau sampai kita ketinggalan kereta bisa-bisa kita turun gunungnya dengan berjalan kaki dengan ditemani beruang.. :D


Waktunya naik kereta dengan membayar untuk naik-turun 850 yen. Tanjakannya terjal banget, engga kebayang kalau harus jalan kaki.. Kereta di sini bagus banget deh, terawat. Sebelum para turis masuk ke dalam kereta, sama petugasnya dipel dulu lantainya.. *salut*


Sampai di atas, mesti jalan lagi cuy, tapi cuman 200m koq buat sampai di tangga pertama temple. Yeaaaahh!! Kudu naik lagi buat bener-bener sampai di depan moncongnya temple. Si Babe, Mas Danang dan Mba Mungki pada engga naik ke temple, karena penasaran kayak apa templenya yaa ayoo aja lah yuk naik tangga. Abis udah jauh-jauh ke mari masa' engga liat templenya?? Mungkin lebih tepatnya masa' engga foto-foto di templenya.. :)

Lihat kan?! Betapa banyaknya anak tangga buat naik menuju temple di gunung Oyama. Tapi setelah gw sampai atas, puaaaaaasss rasanya lihat pemandangan sekitar, lihat kota Atsugi dari atas gunung. Kereeeen!!!


Ternyata, sampai di atas udah engga banyak orang-orang, karena udah mau am 16.30. Tapi masih ada cewek Jepang yang nampaknya ramah nih. Minta tolong fotoin deh, baik cuy orangnya, dia berkali-kali motretin gw, padahal gw cuman minta sekali doank. :)

Selesai foto-foto dan liat pemandangan indah, marilah kita turun mengejar kereta terakhir. Sampai loket kereta, udah penuh aja nih orang-orang pada ngantri. Udah engga usah diceritainlah yaa soal budaya antri di Jepang. Nomero Uno!!

Selamat sampai di kaki gunung Oyama, tempat start pendakian, langsung naik bis menuju stasiun Isehara, dan harus berpisah dengan Mas Danang, Mba Mungki dan Si Miemie di stasiun Atsuki. Gw dan Si Babe langjut sampai Shinjuku, sampai Shinjuku mampir ke Yoshinoya!! :)

Sampai ketemu di cerita selanjutnya! :)

Sayonara

03 December 2010

Shinjuku - Asakusa, i'm in Love..

Hari Keempat!

Saatnya berpetualang seorang diri, benar-benar seorang diri *lebay*

Tujuan hari ini?

Tokyu Hands!!

Tokyu Hands adalah semacam departement store, mau cari apa aja di Tokyu Hands pasti ada. Tokyu Hands di Shinjuku engga sebesar di Ikebukuro, padahal menurut gw, Tokyu Hands Shinjuku aja udah besaaaar bener *lebay*.


Setuju dengan pendapatnya si Babe, kalau pergi ke sini enaknya sendirian atau bareng dengan orang yang suka juga dengan Tokyu Hands. Kenapa? Karena memang kalau pergi ke Tokyu Hands bakalan ngabisin waktu berjam-jam hanya buat ngeliat barang-barang di sana.

Tokyu Hands Shinjuku letaknya dekat dari stasiun Shinjuku, dekat juga dengan Takashimaya dan Kinokuniya. Engga heran kan kenapa kawasan ini sangat gw senangi. :)

Selesai berpetualang di Tokyu Hands, gw bingung lagi, mau ke mana yaa?? Ke Harajuku atau Asakusa ya?? Harajuku mesti naik JR (Japan railway), Asakusa naik Tokyo Metro (Subway). Baiklah ke Asakusa aja yang udah khatam naik Tokyo Metro-nya. Kudu beli oleh-oleh juga kan buat para sahabat. :s

Modal nekat dan sotoy, berangkat ke Asakusa!!!

Ternyata naik metro seorang diri engga menyeramkan seperti gw bayangkan sebelumnya. Satu hal yang memang gw takutkan adalah nyasar! Aih mati nyasar di negara orang yang bahasa begini amat. Hurufnya kayak simbol-simbol pramuka. x(

Petunjuk-petunjuk arah di stasiun Jepang sangat mudah dibaca buat para turis macam gw ini. Walaupun engga semua peta rute metro & JR berbahasa Inggris. Tapi nyatanya gw bisa koq sampai di Asakusa dengan selamat. Asal kita ini waspada, kuping dan mata harus extra kerja.
WELCOME TO ASAKUSA!!!
Benar-benar surganya belanja pernak-pernik di sini. Beli oleh-oleh memang enaknya di sini. Banyak pilihan dan harga jelas lebih murah. Hampir semua oleh-oleh buat para sahabat dapetnya di sini. :)

Bukan hanya turis-turis loh yang datang ke Asakusa temple, banyak juga orang jepang yang datang termasuk pelajar-pelajar pulang sekolah mampir ke sini. Enak juga yaa, pulang kuliah trus JJS bareng para sahabat ke sini.. *ngarep*

Sedihnya, karena gw pergi sendiri ke Asakusa temple jadi engga ada deh yang motoin gw di sini. :'( Bingung mau minta tolong siapa ya?? Pilih-pilih orang, gw pilih aja kakek-kakek orang jepang yang bawa kamera Nikon yang gede-gede itu (apa sih istilahnya?? LSR ya?!) Ternyata oh ternyata, si kakek tersebut punya bawaan tremor, jadi pegang kamera gw gemetaran gitu. Jadi ngeri sendiri. Ngeri si kakek jatoh (karena doi sampai jongkok-jongkok motret gw) dan ngeri kamera gw yang jatoh.. :s


(inilah hasil jepretan si kakek, tanpa ada komando "1, 2, 3.. cheese!")

Ow ya, gw sempet sedih di sini (beneran sedih), setelah selesai berurusan dengan si kakek, gw masih ada nyali nih buat minta tolong orang lain motretin gw, dengan harapan lebih bagus hasilnya. Tapi kembali ternyata oh ternyata, gw ditolak!! Si orang jepang engga bisa bahasa Inggris, dan nampaknya engga bisa juga bahasa Tarzan. Hiks!! :"( Tidak semua orang jepang ramah, kawan!

Selesai sudah motret-motret engga jelas yang tentu engga ada gw-nya, mari kita pulang. Perjalanan jauh tapi ditempuh cuman 40 menit dari Asakusa ke Nishi Shinjuku. Harus ganti metro dari Ginza line ke Marunouchi line. Sepanjang jalan pulang yang terasa hanya pusing dan ngantuk.

Sampai ketemu di cerita selanjutnya..

Sayonara! :')

29 November 2010

1# Shinjuku, Tokyo, Japan

Makanan pertama yang sudah ditargetkan untuk dimakan sesampainya di Jepang adalah Yoshinoya. Kangen banget rasanya makan Yoshinoya yang memang asli dari Jepang, bukan yang di Grand Indonesia atau Mall Kelapa Gading. Empat tahun tidak pernah lagi makan Yoshinoya memang cukup membuat saya lupa rasa asli dari bumbu di beefnya.

Sepertinya saya berjodoh dengan Yoshinoya, hotel Rose Garden Shinjuku  tempat saya menginap ternyata bersebelahan dengan Yoshinoya dan 7eleven. Jadi untuk urusan perut tidak khawatir lah yaa.. 


Sayangnya, tadi siang sayang langsung mencicipi menu beef Yoshinoya kegemaran saya tapi saya malah merasa kecewa. Yoshinoya yang dulu sepertinya berbeda dengan yang sekarang. Dari harganya saja sudah berbeda, rasanya jadi lebih murah dibanding dulu di tahun 2006 dimana 1 mangkok beef dan nasi dihargai 500 yen sedangkan sekarang 380 yen. Porsinya pun sedikit berubah, porsi beefnya jadi lebih sedikit walaupun rasa beef tetap sama.

Setelah makan siang, langsung berencana jalan-jalan naik JR (Japan Railway), mengingat kembali jalur JR karena ada 14 jalur kereta. Bagaimana saya tidak takut tersasar di negeri orang?!

Perjalanan dimulai dari stasiun Shinjuku. Konon stasiun Shinjuku adalah salah satu stasiun terpadat di dunia. Orang-orang berjalan dengan kecepatan tinggi seperti lalat terbang tapi hebatnya tidak saling bertabrakan. Kalau di Indonesia, motorlah yang seperti lalat. Rencana sore ini, si Babe ingin survey tempat meeting di daerah Yotsuya. Dari stasiun Shinjuku, saya naik Marunouchi Line (warna merah) yang ke arah Ikeburo dan turun di Stasiun Yotsuya. Suasana pada pukul 15.47, matahari seperti sudah mau terbenam. 



Dari Yotsuya, lanjut lagi ke daerah Roppongi. Kali ini saya naik Nambuko Line (warna hijau tosca) menuju Roppongi. Di roppongi hanya mampir sebentar, langsung balik ke Nishi Shinjuku. Dari Roppongi tidak ada kereta yang langsung ke Nishi Shinjuku, jadi harus ganti kereta di Yotsuya seperti saat berangkat tadi.

Stasiun Shinjuku dengan stasiun Nishi Shinjuku hanya berbeda satu stasiun. Nishi Shinjuku lebih dekat dengan hotel, jadi saya memutuskan turun di stasiun Nishi Shinjuku. Selain lebih dekat dengan hotel, suasana stasiunnya juga jauh lebih lenggang dibanding Shinjuku. 

Punggung saya rasanya sudah pegal luar biasa tapi kalau kaki masih penasaran untuk terus melangkah. Lanjut jalan, ke kawasan pertokoan di sekitar Shinjuku. Si Babe hobby sekali ke pertokoan di Shinjuku, salah satu toko favoritenya adalah toko kamera Yodobashi. Ceritanya dulu saat saya masih kecil, setiap Babe pulang dari Jepang dan membawa buah tangan pasti salah satu kantong pembungkusnya ada yang bertuliskan "Yodobashi", sekarang saya bisa melihat langsung seperti apa bentuk toko kamera Yodobashi itu, bukan hanya melihat dari kantong pembungkusnya. Kawasan pertokoan di Shinjuku ini hampir semua berisi rumah makan, tidak terlihat toko yang menjual aksesoris wanita. 

Selesai dari Yodobashi, kaki dan punggung sudah mulai tidak bisa diajak kompromi, harus segera diistirahatkan! Suhu udara juga sudah mulai menurun. Anginnya bikin badan gemetar. Saat perjalanan pulang menuju hotel, si Babe melewati jalan yang kelihatannya memutar. Kata beliau, "Mau lihat patung LOVE engga? Yang dulu Bapak pernah kasih lihat fotonya?!" . Langsung bersemangat kaki ini untuk segera melangkah. Hoooo.. Ini toh patung LOVE yang terkenal itu, yang salah satunya berada di Shinjuku Tokyo. Selain itu patung LOVE ini ada di beberapa kota di belahan dunia, seperti di Amerika, Jerman, Spanyol, London, Israel, Taiwan, Hongkong, Korea Selatan, Singapura, Thailand, Filipina,  dan Indonesia (Bandung City Hall dan Gandaria City Jakarta). Penasaran makna arti dari patung LOVE ini, silakan baca disini!



Sampai ketemu dicerita selanjutnya.. :)

Sayonara! :)
With Love,

28 November 2010

Japan! I'm Back..

Alhamdulillah! Diberi kesempatan kedua oleh Allah untuk berkunjung ke negeri Sakura. Menyenangkan?? Menarik?? Jelas sangat menyenangkan dan sangat menarik!! Urusan kuliah dan urusan pekerjaan sudah bisa dikendalikan, langsung  mengurus visa!!

Berangkat!!!

Sekarang, saya lagi duduk manis menikmati fasilitas wifi di louge airport Soe-Ta. Namanya juga manusia, mahkluk ekonomis. Lihat yang gratisan langsung minta password wifi. Sekitar 2 jam lagi menunggu waktu boarding, flight terakhir menuju Tokyo. Suasana lougenya saja sudah sepi. Para karyawan juga sudah mulai terlihat bersih-bersih. Volume televisi juga sudah dikecilkan. Mata saya pun tidak mau ikut ketinggalan, sudah 5 watt..

Ceritanya, si Babe seperti biasanya akan ada conference di Tokyo dan saya selama 3 hari akan mengembara seorang diri. Sudah tidak sabar kembali mencicipi makan Yoshinoya asli made in Japan!!! 

Tunggu cerita saya selanjutnya yaaa!!


With Love,